Psikologi Kita

Meski Terlihat Harmonis, Nyatanya 4 Tanda Ini Tunjukkan Hubungan Ibu dan Anak Tak Lagi Sehat

Anak-anak adalah masa saat Kamu bisa bermanja-manja dengan sang ibu. Seiring waktu, Kamu akan berubah jadi lebih mandiri dan dewasa. Tentunya, hubungan yang Kamu jalin dengan sang ibu juga jadi lebih matang. Sayangnya, masih banyak orang dewasa yang terjebak dengan hubungan layaknya “si kecil dan sang bunda”. Hubungan yang seperti ini, ternyata tidak sehat dalam membangun keluarga yang harmonis.

Apakah hubungan Kamu dengan ibu sudah memang benar-benar baik? Coba pastikan hubungan anak dan ibu yang baik seperti apa, dengan simak review berikut.

Tanda hubungan anak dan ibu yg tidak sehat

Seperti apa hubungan ibu dan anak yang sehat itu? Hubungan yang sehat digambarkan dengan anak dan ibu yang saling memahami batasan masing-masing. Bila anak atau ibu masih terjebak dengan peran lama mereka, ini menandakan sesungguhnya ikatan yang dibangun bukanlah hubungan yang sehat.

Dikutip dari Huff Post, Tina B. Tessina, seorang psikoterapis sekaligus penulis {buku} berjudul It Ends With You: Grow Up and Out of Dysfunction, menjelaskan pendapatnya mengenai hal ini.

“Kebanyakan anak-anak sangat bergantung dengan ibunya, jadi tidak mudah bagi sang ibu atau anak untuk melepaskan ikatan itu. Akan tetapi, seorang ibu perlu belajar bagaimana caranya mendukung anak menjadi orang dewasa yang mandiri, dan anak juga harus melepaskan perasaan bergantung dan belajar untuk lebih mandiri“, ujar Tessina.

Beberapa hal yang menandakan hubungan anak dan ibu yg tidak sehat, antara lain:

1. Perhatian yang ditunjukkan ibu Kamu terlalu berlebihan

Komunikasi lewat ponsel bisa mendekatkan hubungan jadi lebih dekat. Akan tetapi, dapat jadi perusak hubungan ibu dengan anak. Kok bisa? Ibu yang menelepon anaknya untuk sekadar menanyakan “sudah makan, belum?” atau “sudah pulang, kerja?” terlalu sering, ternyata bisa mengganggu kehidupan anak. Hal ini rasanya kurang tepat jika dilakukan setiap saat, bukan?

Sebenarnya boleh-boleh saja ibu Kamu menghubungi Kamu lewat ponsel. Akan tetapi, pilih situasi dan waktu yang sesuai. Misalnya, saat Kamu sedang sakit, istirahat kerja, atau saat ada berita yang sifatnya penting dan tidak bisa ditunda untuk diberitahukan.

Untuk mengatasinya, Kamu perlu mengatur waktu kembali dan menyediakan waktu khusus bersama keluarga. Jadi, urusan Kamu dengan teman dan pekerjaan tidak terganggu.

2. Lagi dan lagi bohong pada ibu

Kamu yang merasa sudah dewasa, pasti ingin menghabiskan banyak waktu hangout bersama teman. Sayangnya, Kamu masih saja takut untuk minta izin dan berpikir sesungguhnya rencana liburan Kamu bersama teman tidak disetujui. Jadilah, Kamu mencari sebab lain yang masuk akal untuk menutupi kebohongan tersebut.

Meski ibu Kamu saat itu tidak tahu apa yang Kamu sembunyikan. Lambat laun, kebohongan tersebut bisa saja terbongkar. Hal ini tentunya akan membuat menyakiti hati ibu Kamu, bukan? Ingat, menjalin hubungan yang baik dan sehat, harus mengutamakan kejujuran. Berterus terang akan memupuk kepercayaan satu sama lain dan membuat hubungan jadi lebih erat.

Solusinya, jadilah pribadi yang lebih berani. Apa pun permasalahannya jika Kamu menyampaikan sesuatu dengan baik pada ibu Kamu. Pasti ibu Kamu akan mendengar dengan seksama dan memberi pertimbangan pada Kamu.

3. Membiarkan ibu menangani hal yang seharusnya jadi kewajiban Kamu

Menjadi orang dewasa harus mampu secara mental dan fisik untuk melakukan sesuatu. Misalnya, mencuci pakaian sendiri, merapikan kamar, atau membuat janji dengan dokter untuk cek kesehatan rutin.

Semua itu harusnya bisa Kamu tangani sendiri. Kamu boleh meminta bantuan ibu, akan tetapi saat benar-benar dalam keadaan mendesak. Jika hal ini terus dibiarkan, bagaimana bisa Kamu jadi {tumbuh} mandiri dan pintar mengurus sendiri?

Oleh akibat itu, Kamu perlu mengevaluasi lagi apa saja kewajiban Kamu di rumah yang sudah atau belum Kamu laksanakan. Pintar mengatur waktu dan cukup istirahat, jadi solusi supaya Kamu bisa melakukan berbagai hal sendiri.

4. Ibu terlalu ikut campur ketika Kamu ingin mengambil keputusan

Hidup penuh dengan pilihan. Ini menjadi tantangan bagi Kamu yang beranjak dewasa. Langkah menjadi dewasa adalah mampu memilih mana yang terbaik dan berani menghadapi konsekuensinya.

Sayangnya, masih banyak orangtua yang sering kali ikut campur dengan keputusan anak. Misalnya, keputusan memilih jurusan kuliah. Meski, orangtua ikut andil untuk membiayakan biaya pendidikan, orangtua wajib mempertimbangkan keinginan dan kemampuan anak.

Jangan sampai anak menjalani sebuah pilihan secara terpaksa. Hal ini kemungkinan besar akan membuat anak jadi tertekan dan hasilnya tidak memuaskan. Kondisi tersebut tentu membuat hubungan anak dan ibu serta anggota keluarga yang lain jadi tidak akur.

Sebagai orang dewasa, Kamu harus mampu memilih sebuah keputusan. Akan tetapi, jangan sampai lupa untuk menerima masukan-masukan dari orang lain, termasuk ibu, ayah, dan juga sahabat Kamu.

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close